KAMI SUKA MEMBINA KERJASAMA | KAMI MENJAGA KUALITAS PRODUK | KEPUASAN ANDA ADALAH PRIORITAS KAMI | HOTLINE CALL: (+62) 08562700040



Tampilkan postingan dengan label kapok fiber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapok fiber. Tampilkan semua postingan

Physical Characteristics of Kapok Fiber (fibre)

>> Kamis, 10 April 2014

Individual kapok fibers are 1 to 1.5 cm in length. Under a microscope, kapok fibers present a long narrow cell with frequent folds. Its cell has thin walls and a hollow structure. Its walls form a smooth, closed tube with a large cavity called a lumen.  Each kapok fiber is coated with a waxy substance called cutine. The cutine and lumen are thought to give kapok its buoyancy. Chemically, kapok fiber consists mainly of cellulose, although also containing pentose-containing polysaccharides called pentosan and an inert plastice-like material called lignin.

Read more...

The Kapok Tree

>> Senin, 18 Februari 2013

A great natural resource.

The kapok tree, also known as the silk cotton tree, is native to New World and to Africa and was transported to Asia where is cultivated for its fiber, or floss. The kapok's huge buttressed trunk tapers upwards to an almost horizontal, spreading crown, where large compound leaves are made up of five to eight long, narrow leaflets. In full sun, the kapok can grow up to 4 meters (13 feet) per year, eventually reaching a height of 50 meters (164 feet).

The kapok tree is deciduous, dropping its foliage after seasonal rainy periods, thus ridding it of damaged leaves while purging the tree of fungi, herbivorous insects, and other organisms. This loss of leaves also improves access for the bats that feed on the sugar-laden nectar of kapok blossoms. In doing so, the bats unwittingly pollinate the tree's flowers. The flowers open at night and have five petals that are white or pink on the outside. Only a few flowers on a given branch will open on any particular night during the two or three weeks that the tree blooms.

Kapoks do not bloom every year, and some may go 5–10 years without flowering. When the tree does bloom, however, it is prolific, producing up to 4,000 fruits measuring up to 15 cm (6 inches) long. Eventually these pods open on the tree, exposing the pale kapok fibers to the wind for dispersal. The fibers, in which over 200 seeds are loosely embedded, are sometimes referred to as silk cotton and are yellowish brown, lightweight, and lustrous.

In harvesting of the great kapok fiber, the pods are either cut down or gathered when they fall, then broken open with mallets. The seed and fiber, removed from the pods by hand, are stirred in a basket; the seeds fall to the bottom, leaving the fibers free. The seeds may be processed to obtain oil for making soap, and the residue is used as fertilizer and cattle feed.

Although kapok wood does not hold screws or nails well, the timber is used for a variety of wood products, including paper. Local peoples have long used kapok logs for carving into canoes. The genus name of the true kapok, Ceiba, likely derives from a Carib word for a dugout boat.

Read more...

Kapuk LC31

>> Senin, 18 Juni 2012

Persilangan klon Lanang x Congo yang dilakukan pada sekitar tahun 1920-an dilanjutkan dengan penanaman benih hasil persilangan dan evaluasi klon hibrida. Di antara klon-klon hibrida yang diseleksi, maka terpilihlah individu nomor 31 yang menunjukkan keunggulan dibandingkan klon hibrida lainnya dan klon terpilih tersebut mulai diperbanyak dan ditanam oleh manajemen perkebunan pada saat itu. Keunikan varietas kapuk LC 31 adalah pembentukan cabang pertama yang rendah antara 20 cm-100 cm diatas permukaan tanah. 

 

Read more...

Kapuk Togo-B

>> Jumat, 18 Mei 2012

Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togol B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

 

Read more...

Kapuk Muktihardjo 4 (MH 4)

>> Rabu, 18 April 2012

Varietas kapuk MH 4 merupakan hasil persilangan antara klon Seluwok Sawangan 29 (SS 29) yang merupakan klon lokal (tipe Indika), dengan klon Congo (C, tipe Karibea) merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500–3.000 gelondong/pohon, tetapi warna serat abu-abu kecokelatan. Klon SS 29 mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 600–750 gelondong/pohon. MH 4 produksinya dapat mencapai 2.200 gelondong/pohon, lebih tinggi 11–13 % dibanding MH 1 dan 18–25% dibanding MH 2. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir, karena sesuai dengan kualitas “Java Kapok”.

 

 

Read more...

Kapuk Muktihardjo 3 (MH 3)

>> Minggu, 18 Maret 2012

Varietas kapuk hibrida MH 3 merupakan hasil persilangan antara klon Congo 2 (tipe Kari-bea) dengan klon lokal Lanang (tipe Indika). Klon Congo merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500–3.000 gelondong/pohon. Klon Lanang merupakan klon lokal yang mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 750 gelondong/pohon. Varietas MH 3 produksinya dapat mencapai 2.400 gelondong/pohon yang lebih tinggi 18–20% dibanding MH 1 dan 27–30% dibanding MH2 yang sudah dilepas. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir karena sesuai dengan kualitas “Java Kapok”. Pengembangannya disarankan secara okulasi karena, perkembangan melalui biji akan mengalami segregasi.

 

 

Read more...

Indonesia Sebagai Pengekspor Serat Kapuk Terbesar di Dunia

>> Minggu, 18 Desember 2011

Sejak tahun 1928 sampai sekarang Indonesia masih merupakan negara pengekspor kapuk, tetapi jumlahnya terus menurun. Pada 1936/1937 Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar di dunia, jumlahnya mencapai 28.400 ton serat atau sekitar 85% kebutuhan serat kapuk dunia. Pada tahun 2003 ekspor serat kapuk menurun menjadi 1.496 ton serat. Penurunan ekspor kapuk antara lain disebabkan banyaknya kapuk tua yang tidak produktif, penebangan kapuk tanpa diimbangi peremajaan, meningkatnya penggunaan serat kapuk dalam negeri, dan persaingan dengan bahan sintetis seperti karet busa. Selain itu penurunan ekspor kapuk Indonesia disebabkan kalah bersaing dalam harga dengan Thailand yang lebih murah. Untuk meningkatkan ekspor serat kapuk antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan tetap mempertahankan kualitas serat kapuk yang baik.
          Varietas unggul yang telah dilepas Balittas untuk mendukung pengembangan kapuk adalah Muktiharjo 1 (MH 1) , Muktiharjo 2 (MH 2), dan Togo B dari tipe Karibea yang dilepas pada tahun 2006 dan sesuai untuk usaha tani monokultur, serta Muktiharjo 3 (MH 3) dan Muktiharjo 4 (MH 4) dari tipe yang sama yang sesuai untuk program penghijauan dan konservasi lahan yang dilepas pada tahun 2007.

Read more...
Powered By Blogger
JANGAN SALAH MEMILIH DALAM BERBISNIS | ANDA LAYAK MENDAPATKAN PRODUK TERBAIK | HUBUNGI : ARIF MULYADI (+62) 08562700040