KAMI SUKA MEMBINA KERJASAMA | KAMI MENJAGA KUALITAS PRODUK | KEPUASAN ANDA ADALAH PRIORITAS KAMI | HOTLINE CALL: (+62) 08562700040



Bio Fungisida Dari Kulit Limbah Kapuk

>> Jumat, 20 Juni 2014

Kulit kapuk randu di Desa Karaban, Kecamatan Gabus, Pati menjadi barang sepele. Jumlahnya yang melimpah menjadikan limbah itu dibuang sia-sia.

Namun hasil penelitian, kulit kapuk mendapat predikat juara di ajang internasional.
Adalah siswi SMA PGRI 2 Kayen, Pati, Apriliani Sofa Marwaningtyas, yang menjadi inspirator. Penelitian sederhananya tentang kulit kapuk mampu menunjukkan kepada dunia, bahan yang selama ini kurang bernilai menjadi bermanfaat di bidang pertanian. Para ahli yang menjadi juri dalam event Mostra Internacional De Ciencia Tecnologia (Mostratec) Ke-28 di Novo Hamburgo-RS, Brazil, terkesan dengan hasil penelitian siswi kelas XII itu.

Dara kelahiran 21 April 1997 ini berhasil mengembangkan abu kulit kapuk menjadi biofungisida. Pestisida hayati ini berfungsi untuk mengendalikan penyakit tanaman, khususnya yang disebabkan jamur (fungi). Pelajar asal Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Pati, itu memiliki rasa igin tahu terhadap berbagai hal. Upaya keras mengungkap sesuatu yang bernilai tinggi di balik bahan yang dianggap sepele masyarakat terus dilakukan dengan pendampingan guru Moh Rouf SPd MSi.

Prestasinya meningkat seiring diraihnya penghargaan juara I dari 13 kategori Biologia Celular e Molucular Micro Biologia berkait biofungisida dari abu kulit kapuk. Itu merupakan event sains internasional yang diikuti 40 negara di dunia dengan 500 peserta, termasuk dari Amerika Serikat dan Inggris.
Selain SMA PGRI 2 Kayen, Indonesia juga mengirim dua sekolah lain untuk berkompetisi di Brazil pada 20-25 Oktober lalu, yaitu SMA Karisma Bangsa Banten dan SMA Sumatera Selatan (Sampoerna Academy). Namun, April yang membawa bendera SMA PGRI 2 Kayen mendapat perhatian khusus.

Menurutnya, juri tercengang dengan pengembangan biofungisida hasil penelitiannya. Mengingat, kapuk randu yang merupakan tanaman asal Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Karibia bukan saja dimanfaatkan kapuknya saja untuk bahan baku kasur. Karena kapuk randu yang banyak di Brazil sejauh ini masih sebatas untuk produksi kapuk semata dan belum menyentuh pemanfaatan limbahnya.

Bio fungisida yang dikembangkan siswi SMA PGRI 2 Kayen memiliki nilai lebih karena mengoptimalkan potensi lokal dengan memanfaatkan limbah kapuk yang banyak ditemukan di Desa Karaban, Kecamatan Gabus. Tidak sulit mendapati bahan buangan itu di sentra industri kapuk yang cukup dikenal di Indonesia.
Selain itu, biofungisida, yang merupakan jenis pestisida dari organisme tertentu untuk mengendalikan penyakit karena jamur pada tanaman saat ini sangat dibutuhkan. Mengingat bahan tersebut bersifat organik, mudah didapat, dan ramah lingkungan. ”Total limbah kapuk yang dihasilkan di daerah Karaban dalam satu bulan bisa mencapai 150 ton dalam bentuk klothok (kulit kapuk-red). Sayangnya limbah itu menjadi tak bernilai jika hanya dibuang begitu saja,” ujar April.

Selain memiliki nilai manfaat tinggi, biofungisida dari kulit kapuk ini juga relatif murah. Satu karung bahan utama, yakni abu kulit kapuk hanya seharga Rp 10 ribu. Dari dua kilogram abu dapat menghasilkan setengah kilogram bio fungisida yang cukup disemprotkan di lahan pertanian seluas seperempat hektare. Adapun biaya pembuatan antara Rp 15 ribu- Rp 20 ribu. Menurut guru pembimbing April, Moh Rouf, bio fungisida itu belum banyak ditemui di pasaran. Kalau pun ada, harganya berkisar Rp 60 ribu untuk lahan seluas seperempat hektare. Biofungisida ini dapat membantu petani karena menekan biaya penghilangan jamur tanaman, terutama cabai yang kerap ditemukan jamur. Hasil penelitian itu dapat dikembangkan lebih besar untuk kepentingan kemajuan pertanian di Tanah Air.

Kepala SMA PGRI 2 Kayen Surata mengemukakan, sebelum ke Brazil, biofungisida itu pernah dilombakan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2012 yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Hasil penelian oleh dewan juri dari ITB, IPB, UI, dan ITS cukup unik dan memiliki nilai sehingga dinobatkan sebagai penelitian terbaik ketiga.

Atas prestasi itu, April ingin lebih mendalami bidang ilmu pengetahuan terapan, seperti biologi dan fisika. Meskipun banyak tawaran dari sejumlah perguruan tinggi kenamaan di Indonesia, namun putri pasangan Muhammad Zaelani dan Sudarni ini memiliki obsesi kuliah di luar negeri. ”Saya ingin menjadi dosen.”

Read more...

Physical Characteristics of Kapok Fiber (fibre)

>> Kamis, 10 April 2014

Individual kapok fibers are 1 to 1.5 cm in length. Under a microscope, kapok fibers present a long narrow cell with frequent folds. Its cell has thin walls and a hollow structure. Its walls form a smooth, closed tube with a large cavity called a lumen.  Each kapok fiber is coated with a waxy substance called cutine. The cutine and lumen are thought to give kapok its buoyancy. Chemically, kapok fiber consists mainly of cellulose, although also containing pentose-containing polysaccharides called pentosan and an inert plastice-like material called lignin.

Read more...

Sel Serat Kapuk Randu (Ceiba Pentandra)

>> Kamis, 18 April 2013

Sel kapuk randu seperti halnya sel kapas berbentuk memanjang, perbedaannya; pada sel kapuk tidak terdapat torsi, sehingga sel kapuk hanya berupa lumen (rongga sel) yang dibatasi oleh dinding sel dengan lingkungan luar. Oleh karena itu sel kapuk mampu menyimpan udara sehingga baik digunakan sebagai bahan isolasi. Serat kapuk banyak digunakan sebagai bahan kasur atau bantal. Biasanya, kasur jika telah lama digunakan, maka sel-sel kapuknya akan terisi minyak yang berasal dari keringat kita, sehingga tidak empuk lagi. Oleh karena itu, kasur tersebut harus dijemur di bawah terik matahari, untuk menguapkan minyaknya, sehingga dapat dipakai kembali.

Serat kapuk berasal dari sel epidermis dari kulit buah. Sel-sel ini mulai tumbuh kira-kira 16 hari sesudah pembungaan, yaitu waktu pembelahan sel telur dan ada kepastian buah tidak rontok. Serat yang sudah tua membentuk lumen yang kosong berdinding tipis dan terisi udara serta tertutup pada kedua ujungnya. Dindingnya licin dan dilapisi lapisan lilin sehingga serat kapuk sangat ringan dan mempunyai kemampuan mengisolasi panas dan suara. Dinding serat kapuk licin dan tidak terpilin sehingga serat kapuk sulit dipintal menjadi benang karena antara serat yang satu dengan yang lain tidak melekat menjadi satu.

Read more...

The Kapok Tree

>> Senin, 18 Februari 2013

A great natural resource.

The kapok tree, also known as the silk cotton tree, is native to New World and to Africa and was transported to Asia where is cultivated for its fiber, or floss. The kapok's huge buttressed trunk tapers upwards to an almost horizontal, spreading crown, where large compound leaves are made up of five to eight long, narrow leaflets. In full sun, the kapok can grow up to 4 meters (13 feet) per year, eventually reaching a height of 50 meters (164 feet).

The kapok tree is deciduous, dropping its foliage after seasonal rainy periods, thus ridding it of damaged leaves while purging the tree of fungi, herbivorous insects, and other organisms. This loss of leaves also improves access for the bats that feed on the sugar-laden nectar of kapok blossoms. In doing so, the bats unwittingly pollinate the tree's flowers. The flowers open at night and have five petals that are white or pink on the outside. Only a few flowers on a given branch will open on any particular night during the two or three weeks that the tree blooms.

Kapoks do not bloom every year, and some may go 5–10 years without flowering. When the tree does bloom, however, it is prolific, producing up to 4,000 fruits measuring up to 15 cm (6 inches) long. Eventually these pods open on the tree, exposing the pale kapok fibers to the wind for dispersal. The fibers, in which over 200 seeds are loosely embedded, are sometimes referred to as silk cotton and are yellowish brown, lightweight, and lustrous.

In harvesting of the great kapok fiber, the pods are either cut down or gathered when they fall, then broken open with mallets. The seed and fiber, removed from the pods by hand, are stirred in a basket; the seeds fall to the bottom, leaving the fibers free. The seeds may be processed to obtain oil for making soap, and the residue is used as fertilizer and cattle feed.

Although kapok wood does not hold screws or nails well, the timber is used for a variety of wood products, including paper. Local peoples have long used kapok logs for carving into canoes. The genus name of the true kapok, Ceiba, likely derives from a Carib word for a dugout boat.

Read more...
Powered By Blogger
JANGAN SALAH MEMILIH DALAM BERBISNIS | ANDA LAYAK MENDAPATKAN PRODUK TERBAIK | HUBUNGI : ARIF MULYADI (+62) 08562700040