KAMI SUKA MEMBINA KERJASAMA | KAMI MENJAGA KUALITAS PRODUK | KEPUASAN ANDA ADALAH PRIORITAS KAMI | HOTLINE CALL: (+62) 08562700040



Cerita Sepasang Pohon Randu 'Raksasa' 2021

>> Senin, 22 Maret 2021

Pemalang - Sepasang pohon randu ukuran besar atau 'raksasa' berdiri berjejer mengapit jalan raya Pemalang-Purbalinga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Randu yang disebut berusia ratusan tahun itu dinamai randu lanang (pria) dan randu wedok (wanita).

"Kalau usianya, saya kecil saja pohon randu sudah sebesar ini. Cerita persis tidak tahu. Soalnya diceritakan turun-temurun dan banyak versinya," kata sesepuh warga setempat, Mbah Rais (68), kepada detikcom, Jumat (19/3/2021).

"Ada yang menyebut randu lanang dan wedok. Ya bisa saja, dari bentuk pohon randu bisa dilihat sendiri," tambahnya.

Mbah Rais menyebutkan selama ini pohon randu itu dikenal orang berada di wilayah Randudongkal. Padahal, lokasinya masuk Desa Sikasur, Kecamatan Belik. Menurut Mbah Rais, randu berumur sekitar ratusan tahun, tingginya lebih dari 40 meter. Sedangkan diameternya bila delapan orang melingkar dengan berpegangan tangan tidak cukup.

"40 meter lebih ya tingginya. Kalau besarnya, perlu delapan orang bahkan bisa lebih, jika melingkar saling berpegangan tangan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sikasur, Kusni, mengatakan sepasang pohon randu tersebut terbilang langka jika dilihat dari ukurannya. Di Desa Sikasur ada tiga pohon randu 'raksasa'. Selain sepasang randu jejer, ada juga satu pohon randu serupa yang letaknya cukup jauh yakni di Karangmulya.

"Tidak ada yang berani tebang. Makanya siapapun harus bareng menjaganya," kata Kusni. Ia menceritakan, beberapa tahun yang lalu ada warga asal Purwokerto yang penasaran dan mampir saat dini hari untuk mengambil foto di lokasi pohon randu raksasa itu."Beberapa tahun yang lalu, jam satu malam, ada dosen senior dari Purwokerto, ada enam orang, penasaran, malam-malam memfoto randu jejer. Ada penampakan. Ular besar. Ada apinya," katanya.

"Dikeramatkan warga. Tapi, warga sini tidak ada ritual khusus apapun," jelasnya.

Kusni menambahkan, pohon randu jejer raksasa akhir-akhir ini memang tengah tren untuk dijadikan lokasi swafoto kalangan muda-mudi.

"Ya tidak masalah. Hanya saja, dilakukan di lokasi yang aman, mengingat lokasi setempat kan jalannya menikung. Jangan dilakukan di jalan raya. Karena selain mengganggu arus kendaraan juga membahayakan, karena jalan menikung sangat tajam," imbaunya.

"Saya imbau juga, untuk tidak merusak pohon. Atau mengotori pohon dengan sampah-sampah. Kita harus bersama-sama menjaganya," pungkasnya.

 

 

Read more...

Kapuk Karaban Diekspor Hingga ke Jepang Tahun 2020

>> Kamis, 25 Februari 2021

Jika di tanah air kapuk randu jadi bahan baku kasur, lain halnya dengan di negeri matahari terbit Jepang yang menjadikan serat kapuk menjadi bahan baku pembuatan body armour (baju pelindung untuk polisi dan militer).

Hal ini diungkapkan salah satu IKM (Industri Kecil Menengah) dari Desa Karaban, Gabus Pati dengan produk Kapuk Fiber yang diekspor ke negeri matahari terbit tersebut. Untuk melakukan produksi kapuk jenis ini memiliki spesifikasi khusus dan tidak setiap pabrik tempat produksi memiliki kemampuan membuatnya karena berbeda kegunaannya.


Kapuk fiber telah terjaring dalam pelatihan ECP (Export Coaching Program) tahun 2021 selama kurang lebih 1 tahun serentak akan dilaksanakan di tiga provinsi yakni regional Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

ECP sendiri terlaksana berkat kerjasama Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah mengadakan Workshop dan Verifikasi Perusahaan Export Coaching Progam selama empat hari dari tanggal 22-25 Februari 2021 bertempat di Hotel Gets Semarang.

“Kami telah menunggu program pemerintah ini yang mana akan dilakukan inkubasi sampai berhasil melaksanakan ekspor di NTE (Negara Tujuan Ekspor) sebab produk Kapuk Fiber punya pasar yang potensial dan sangatlah ramah lingkungan,” ungkap Dimas, Selasa, 23 Februari 2021 .

Perusahaannya telah melakukan ekspor untuk pertama kalinya di Agustus 2020 yang lalu melalui pihak ketiga. Selain itu, kemarin bertepatan saat mengikuti workshop ini yang bersangkutan telah menerima hasil uji sampel yang dikirim ke Jepang.  “That Java Kapok is Indonesia’s most Eco Friendly Fiber,” Ungkap Client Jepang.

“Semoga dengan inkubasi ECP ini, bisa memberi dampak positif ke Masyarakat Kabupaten Pati. Karena dapat menyerap tenaga kerja dan membuka lahan pekerjaan baru. Sehingga mampu memberikan PAD Kabupaten Pati dan Devisa Negara. Sebab sangatlah besar potensi pasar untuk produk kapuk randu di luar sana,” harapnya.

Read more...

Road Trip: Fashion For Good, Next-Generation Innovators and A Cappuccino 2018

>> Rabu, 31 Juli 2019

June 2018, FashNerd popped into Fashion for Good HQ in Amsterdam for a one on one meeting with next-generation innovators who have been selected to be part of Fashion for Good-Plug and Play Accelerator. Over a cappuccino, we got to hear from startups that have been following a robust curriculum for 12-weeks. It was a programme that included mentorship from the Accelerator’s partners adidas, C&A, Galeries Lafayette, Kering, Target and Zalando.

Fashion for Good, A Platform For Innovation

Fashion for Good is a global initiative designed to transform the fashion industry for good. At the core of the company is their Fashion for Good-Plug and Play Accelerator programme that offers startup innovators the expertise and access to funding they need to grow. Anne-Ro Klevant Groen, communication manager at Fashion For Good said, “Next to the Accelerator we also have a Scaling programme, that has been created to support innovations that have passed the proof-of-concept phase, and are ready to take advantage of the bespoke support and access to expertise, customers and capital”. Today we spoke to several startups from the Accelerator programme.

Of the many startups we came across, we spoke to Jeroen Muijsers the startup produces natural yarns, fillings and fabrics made from kapok fibres. The kapok tree can be naturally grown without the use of pesticides and insecticides in arid soil not suitable for agricultural farming, offering a sustainable alternative to high water consumption natural fibre crops such as cotton. We first met the textile engineer at Munich Fabric Start where he showcased his vegan solution. Driven by the impact he saw firsthand when he worked in garment production, Jeroen was encouraged to try and improve the process by offering a versatile fibre that is even better than tencel and cotton.


    “When it comes to the word sustainability, it has lost its credibility because it has been so overused”

    – Jeroen Muijsers

Encouraged to dig deeper, I asked him about what sustainable fashion means to him, “When it comes to the word sustainability, it has lost its credibility because it has been so overused”. I understood his point. The word has been thrown around quite a bit, which has led to it no longer have the power of change that it once had. Maybe we need to rebuild the word and what it now means.

Working mainly with B2B, Jeroen has come to realise that sustainable fashion comes at a price. “The thing is authentic sustainability comes about through knowledge. This is why consumers need to be educated, and then we will be able to change their buying behaviour”. Nodding in agreement, he looked at me and then said, “The media, like you, are going much faster than sustainability can keep up”. Smiling, I thought it is probably because it is easy to forget that change doesn’t happen overnight. So that is why we think that it is great that companies are patiently making the kind of difference that has been long overdue.

Share Your Tips & Corrections

Read more...

Love Your Baby, Love Organic 2017

>> Jumat, 07 Juli 2017

What is Kapuk? (and how do you say it?!!!) It has actually been quite surprising finding people that know about Kapuk - I haven't seen it being used as a stuffing in many products at all! But it's a fantastic fibre, who's benefits outway most of it's competitors and one that really needs promoting. So how do you say it? "Kay" (or phonetically speaking "Kei") "Poek", so no tongue twisting there :) (phew!).
I have now included a tab on my product pages giving a few details on what we are filling our pillows with. Check out our product pages or just read below!

Here at Baby Harvelicious we fill our Huggsie Pillow with a fibre called Kapuk (also known as silk cotton or Java cotton).
Kapuks origins come from Java Island - Indonesia, but can now be found in rainforests worldwide.
The kapuk fibres are hair-like, glossy and are a yellowish, cream colour made from lignin and cellulose. 

Each fibre is about 2.5 cm long and has thin walls that are covered with a waterproof wax. Combined, this makes kapuk:
lightweight - which helps when you are using it to support a growing baby!

resilient - its waxy coating helps repel water, and that is always helpful with accidents and spillages

bouncy - kapuk resists clumping, so does not become lumpy like other stuffings. Even after washing it bounces back to its original shape

slippy - the waxy coating makes it a slippy fibre therefore making it easy to adjust the shape to how you need (because it bounces back into shape afterwards it doesnt matter!)

warm - the cell structure in Kapuk allows it to trap air, which is great for insulating. Keeping your baby warm and snuggled 

hypoallergenic - which is important for vunerable newborns (with our stuffing being organic, this adds an extra bonus for your little one)

environmentally friendly - because kapuk is naturally biodegradable, it can be reused many times without developing mould or decaying (unlike stuffings containing polyester)
(From owner Baby Harvelicious - Europe)

Read more...

The Beauty Of Kapuk

>> Jumat, 12 Mei 2017



Sometimes we forget how to feel, how to adjust to such a fast paced society. We forget to look back and appreciate the simplest things. We invent and we discover oil and we make our machines run with it, and we take a natural element and make it so important. Our team believe that Nature already gives us the best we can have, we can be gentle, and humble and we can be kind to one another. We rediscovered Kapuk and wants the world to know how great it is.

Read more...

New Adventure in The Land Of Kapuk

>> Jumat, 14 April 2017


We are setting for a new adventure, an adventure in the Land of Kapuk. We plan to create the better future for the next generations. We want to plant a seed then we put the seed back to nature, where it belongs. All our products give back to nature what nature kindly and generously gives to us. We gives back what it borrows from the Land of Kapuk. We invest in our future and your future. We care about the Planet, we care about the Nature, we care about You. Join us and buy kapuk fiber to neturefy the planet with us!

Read more...

To Naturefy With Kapuk

>> Jumat, 10 Maret 2017





To Naturefy is the VERB that we wants to use to express a feeling, an emotion, a need, to give back to Nature. We live in a world that needs our help, and we wants to give its contribution by using what Nature gives us, this amazing and fascinating element of nature, which is Kapuk. Please Naturefy with us and make a difference today.  Choose ORGANIC, choose KAPUK, choose NATURE, and NATUREFY the world one fiber at a time.



Read more...

Water Repellent by Nature

>> Jumat, 10 Februari 2017



Kapuk fibers are water-repellent due to the natural wax coating. Mother Nature coated Kapuk fibers with a thin layer of wax thus making it hydrophobic – it almost does not absorb water. In addition, the large, air-filled lumen ensures that the kapuk fibers have a low density and good buoyancy. Even after extended immersion in water, buoyancy declines only slightly. Since Kapuk hairs are not wettable and incredibly buoyant are thus used for filling life jackets and life belts. Lightweight, hydrophobic, incredibly buoyant – one simple Kapuk fiber is full of many amazing active properties! A jewel made in the Land of Kapuk.

Read more...

Innovation Award 2016 The Materials Made Of Kapuk

>> Jumat, 06 Januari 2017



PETA Fashion Awards 2016 winners have been announced. From Stella McCartney to Topshop, PETA has revealed the brands and designers that it is recognizing for their animal-friendly achievements this year. Flocus has received the Innovation Award 2016 for the materials made of Kapuk.

Compassion and sustainability continue to shape today’s fashion industry, and the PETA Fashion Awards celebrate the year’s greatest animal-friendly achievements and recognize the most compassionate brands and designers.

Using kapuk, a 100% natural seed fiber, we have developed an innovative and effective material which is insulating, lightweight, and water-repellent. This superior alternative to down is set to make headway this year, as more brands continue to ban cruelly obtained feathers from their collections. More environment friendly means more love on the Planet.

Read more...

The Power Of Kapuk

>> Jumat, 09 Desember 2016

 

The Kapuk fibers come from fruit pods that grow on trees. It is non-food crop and a natural wax-coating protects its fibers from insects. Hence there is no need for the use of pesticides. In addition, there is absolutely no need for fertilizers or any other chemicals to foster its growth. The trees grow in tropical and sub-topical regions, where the heavy rainfall and rich ground water are sufficient for its prosperous development – no additional irrigation is required. Rain forests are ample in all the trees need. That’s the beauty of Kapuk – it only grows organic! And it only uses natural resources provided by Mother Nature. Not only Kapuk has no negative impact on the environment, but also it provides more biodiversity and fresh air.

There are even more benefits of Kapuk. It can also grow on hills, which reduces the use of agricultural flat land that is needed for food production. It can grow in acidic soil, as well as on the ground with a very thin layer of soil. The Kapuk trees are mainly found in the wild but there are a few plantations, where trees are planted in soil of only 40-50 cm deep. Kapuk thrives where no other tree can survive! It is easy for Kapuk to prosper in such shallow soil due to its extensive roots that spread even above the ground.

Read more...

Kapuk Fabrics

>> Jumat, 11 November 2016


Fabrics made with Kapuk yarns feel extremely soft and are suitable for a wide range of markets: fashion, active wear, medical textile and more. The fabrics will give a cool feel in summer and warm in winte. It will have a quick dry function, anti-bacterial, anti-moth and anti-mite.

Kapok fiber has a soft silky-cotton touch. The fiber is hollow and therefore insulating, this provides cool in the summer and warmth in the winter. Due to its hollow structure it is buoyant, as it’s also hydrophobic due to a natural wax coating, making it water repellent and naturally quickly dry.
Kapok has a long list of other natural functions such as anti-bacterial (oderless), anti-moth, anti-mite and medical benefits. This makes the products very suitable for a very wide range of products.

Read more...

Kapuk Fillings

>> Jumat, 14 Oktober 2016


Knowing that KAPUK has great insulation values due to its hollow structure we developed natural fillings. JACKETS, BEDDING, SLEEPING BAGS utilize synthetic or down fill material, this is harmful for nature and increases animal farming practice. With our filling we protect nature and provide the same warm-keeping functions.

With this natural and most sustainable Kapuk filling we provide 100% NATURAL WARMTH and fully bio-degradable product with practical advantages.  The product is: machine washable, water repellent, anti-bacterial for reducing odors anti-moth and anti-mite for safe storage.

Read more...

Kapuk Yarns

>> Jumat, 09 September 2016


KAPUK YARNS
 
Kapok fibers provide a soft, dry touch to yarn & fabric. It can be spun in ring spun and air spun yarns between 6s – 60s. The yarns provide a cooling & warm keeping function due their fibers hollow structure. The yarns naturally dry quickly because of kapok’s water repellent factor. Its anti-bacterial function
property creates a new generation of odorless fabrics, medical fabrics, fabrics used in bedding for any hospitality projects.

There are many more functions and product options which are under investigation and testing. Therefore please keep checking our blogs for updates. If you have suggestions for new products we are open for new developments and cooperation.




Read more...

Nyeri Leher dan Mitos Jemur Bantal Kapuk

>> Jumat, 12 Agustus 2016

Nyeri leher sering kali kita alami ketika bangun tidur. Hal ini bisa disebabkan oleh posisi tidur yang salah sehingga berakibat pada nyeri otot leher.

Sebagian orang percaya, menjemur bantal bisa membantu menyembuhkan nyeri leher. Betulkah demikian? Sebenarnya, hal ini juga tidak sepenuhnya betul atau salah. Namun menjemur bantal bukan menjadi satu-satunya cara untuk penyembuhan dan meringankan sakit leher yang dialami.

Bantal yang sudah terlalu lama tidak dijemur, jika terbuat dari bahan serat kapuk (organic fiber), teksturnya akan cenderung padat dan mengeras. Hal ini yang menurut WorldNews menyebabkan rasa kurang nyaman apabila digunakan saat tidur atau beristirahat. Tetapi pemakaian serat alami semacam serat kapuk sebagai pengisi bantal masih sangat dianjurkan karena efeknya baik jika berinteraksi dengan kulit kita dibandingkan serat sintetis.

Jika hal ini dilanjutkan, bisa menjadi salah satu penyebab sakit leher, yang ditandai dengan rasa kaku dan nyeri. Oleh karena itu, perlu sekali untuk merawat kasur dan bantal yang digunakan agar jauh dari tungau dan debu, serta yang pasti lebih empuk dan nyaman ketika digunakan.

Jika sakit leher sudah telanjur terjadi, maka bisa diatasi dengan mandi air hangat atau panas, mengompres leher dengan air dingin dan hangat, serta melakukan latihan peregangan dengan gerakan memutar perlahan.

Read more...

Letak Bantal yang Tepat untuk Semua Posisi Tidur

>> Jumat, 08 Juli 2016

Mendapatkan tidur yang nyenyak menjadi keinginan setiap individu, apalagi setelah seharian letih bekerja. Tidur yang nyenyak memang bisa menjadi obat mujarab untuk mengembalikan energi dan semangat Anda keesokan harinya. 

Sebelum tubuh benar-benar terlelap, memposisikan tubuh yang nyaman di atas kasur dan memejamkan mata adalah langkah pertama yang perlu dilakukan. Namun sering kali posisi tidur yang nyaman sulit untuk didapatkan karena kurang lihai memilih bantal.

Melansir laman Huffington Post, memilih bantal yang tepat dapat membantu seseorang mendapatkan posisi yang nyaman. Bantal diumpamakan sebagai jembatan antara kepala dan tubuh karena berada di posisi yang tepat untuk menjaga tulang belakang terhindar dari rasa sakit. Terkadang bahkan dibutuhkan lebih dari satu bantal untuk mencapai posisi yang nyaman.

Berikut penggunaan bantal untuk mendapatkan posisi tidur yang nyaman dan nyenyak untuk Anda.

- Bantal untuk posisi telentang

Jika Anda biasa tertidur dengan posisi telentang maka posisi bantal harus sebaris dengan posisi kepala dan tulang belakang.
Dengan memilih bantal yang lembut akan memanjakan leher dan kepala Anda, dan terhindar dari nyeri punggung saat bangun di pagi hari.
Jika rasa sakit masih Anda rasakan, tambahkan satu bantal di bawah lutut kaki atau di punggung untuk tidur yang nyenyak.

- Bantal untuk posisi tidur menekuk perut 

Orang yang tidur dengan posisi perut yang menekuk ini, tidak memerlukan banyak bantal di sekitar tubuh. Hanya saja, untuk menjaga kenyamanan terlebih juga menghindari nyeri punggung di bagian bawah, selipkanlah bantal di bawah perut. 

- Bantal untuk posisi tidur miring
 
 Orang-orang yang terbiasa tidur dengan posisi miring ini berisiko bangun dengan rasa sakit di bagian bahu, pinggul, dan leher. Ini karena saat tidur mereka menahan berat badan yang tidak seimbang.
Untuk mendapatkan tidur yang nyenyak pada posisi ini, gunakanlah bantal yang tebal untuk mengisi jarak antara telinga dan bahu. Tempatkan bantal juga di antara lutut dan pinggul untuk mencegah nyeri saraf dan otot saat terbangun dari tidur.
Memilih bantal yang tebal dan empuk dapat membantu tidur lebih nyenyak dan menghindari rasa sakit di beberapa titik tertentu saat bangun dari tidur. Anda pun dapat mengisi isian bantal atau busa bantal Anda sesuai dengan kebutuhan.
Pemilihan bahan bantal pun dapat mendukung tidur yang nyenyak, seperti yang diisi dengan serat kapuk (organic fiber) yang lembut yang berguna juga untuk menjaga kenyamanan kulit tubuh dari keringat di malam hari.

Read more...

Successful Sustainable Spinning Kapuk Fibre

>> Jumat, 27 Mei 2016

The key business principles of the Gebr. Otto Baumwollfeinzwirnerei are sustainability, maximum product quality and power of innovation. The family business with production facilities in Dietenheim and Balzheim near Ulm in Germany is one of the leading yarn manufacturers in Europe, supplying to internationally renowned customers in the clothing industry and in the sector of technical and medical textiles. In 2002, the company was certified as an environmentally friendly and socially responsible production facility in line with the requirements of OEKO-TEX® Standard 1000 as the first spinning mill and dye works in Germany. This allows the company to attach the OEKO-TEX® Standard 100plus label to its products as well.

Over 100 years of progress and quality
The company started out as Gebr. Otto with a twisting mill in Dietenheim in 1901. The increased demand for textiles following World War II lead to the addition of the sectors dyeing, mercerising and ring spinning. A second spinning mill was added in 1990 despite the general crisis in the German textile industry. Today it is one of the most modern plants in Europe. 160 employees work at the production facilities in Dietenheim and Unterbalzheim, producing yarn for customers in the sectors circular knitting, flat knitting and weaving as well as for manufacturers of technical textiles (e.g. automotive, hygiene) and medical textiles.

Gebr. Otto focuses on yarns of the highest quality, made from the natural product cotton as well as from fibres from natural raw materials. The company is one of the leading yarn manufacturers, producing an annual output of more than 3000 tons of cotton yarn with modern plants for spinning, twisting, dyeing and yarn mercerising. Customers include renowned clothing manufacturers and brands such as Petit Bateau, Schiesser, Speidel, Mey, eterna, Trigema or Triumph International. This makes Gebr. Otto one of only a few manufacturers in the textile industry who can maintain their position in Germany, thanks to the appropriate know-how and the required experience. ‘We practise our values from generation to generation rather than from one quarterly profit to the next. And that includes a very strong sense of identification with our employees and our location,’ Andreas Merkel, managing director at Gebr. Otto, points out. But this great loyalty to the roots of the company also meant that the company first had to create the preconditions for being able to prevail over the competition from low-wage countries. According to Andreas Merkel, this was ensured by developing an appropriate strategy: ‘From a purely economic point-of-view, production in Germany does not actually pay. This is the reason why we focus on a premium and niche strategy to be able to stand our ground on the international market.’

Sustainable Concepts
The core business of Gebr. Otto is essentially based on three pillars: manufacturing of fine premium yarns for the technical sector and the clothing industry (OTTO Premium Yarns), the development and introduction of sustainable, integrated product concepts for customers in the clothing industry and in the technical sector (Sustainable Concepts) and the manufacturing of hygiene products and class 1 medical products (OTTO-Medicare).

The company division ‘Sustainable Concepts’ has been focusing on a now omnipresent trend since 1998. For the spinning mill this was a reaction to the increased ecological demands of the customers – mainly from the clothing industry but also from the sector of technical textiles. ‘Environmental protection and sustainability are not just lip service for us‘, stresses Andreas Merkel, ’they determine our business activities. We have firmly embedded this claim into our company philosophy.’ In addition to the product ranges ‘Fair Trade’ and ‘Bio Yarns’ (where Gebr. Otto is one of only a few spinning mills to offer the combination of Fair Trade and organic cotton), this has lead to the creation of innovative products and concepts which have attracted international attention.

The Piumafil® yarn developed in 2006 allowed the company to use innovative technologies for spinning a mixture of wild kapok and hand-picked cotton into high-quality premium yarn for the first time. Until then the kapok fibre had been thought to be unsuitable for spinning and was primarily used as a filling material. Kapok is a hollow cellulosic fibre with a length of approx. 2-4 cm. It contains 80% air and is six times lighter than cotton. The kapok fibre has special thermal properties and a silky sheen, which is why it is sometimes referred to as silk cotton or vegetable cashmere. The natural wax coating of the fibre only allows a low level of moisture absorption – an advantage that promises excellent wearing properties for clothing textiles. The kapok tree is a tropical plant indigenous to Indonesia, Java, Malaysia, West Africa, the Caribbean and northern South America. Kapok does not grow in monocultures such as plantations. It needs the environment of the tropical rainforest and is therefore free from pesticides and fertilisers. Kapok is 100 per cent biodegradable. Andreas Merkel also focuses on the benefits for the people and the natural environment in the countries of origin: ‘A demand for the fibres from wild kapok trees ensures the livelihood of the local population who harvest these fruit by hand. This in turn prevents deforestation by fire in these areas.’ With this contribution to the protection of the tropical rainforests, the company is an official partner of the nature conservation organisation WWF (World Wide Fund for Nature). Part of the profits from Piumafil® go towards the reforestation of the tropical rainforest. 

Another innovative product concept is the recot²® fibre which was developed in cooperation with Ulm university. The name is a combination of the words ‘recycled’ and ‘cotton’. The power of 2 represents the magnitude of the possible savings with regard to water as a natural resource. The new fibre mix consists of 50% raw cotton and 50% recycled selected production waste or 75% organic raw cotton and 25% recycled cotton. This saves water and significantly reduces the use of pesticides. The production of a T-shirt, for example, usually requires about 4,000 litres of water from raw material to finished product. With the new fibre, only half the amount of this precious resource is used. This manufacturing method can save 5,000 litres of water for each kilogramme of yarn. Andreas Merkel sees huge potential for the future: ‘The lack of water is becoming dramatically obvious in more and more regions of the world. With this approach, we have made our contribution to the protection of this valuable and life-sustaining natural resource.’

Sustainable added value
In 2002, Gebr. Otto was one of the first ever companies to be certified according to the requirements of OEKO-TEX® Standard 100plus. The OEKO-TEX® Standard 100plus product label enables textile and clothing manufacturers to use one single test mark for providing their customers with documentation of the human ecology requirements according to OEKO-TEX® Standard 100 and their environmentally friendly production conditions according to OEKO-TEX® Standard 1000. Andreas Merkel is convinced that the required measures have been worthwhile for the company: ‘We are convinced that products from environmentally friendly production which have undergone testing for harmful substances offer clear added value for consumers. OEKO-TEX® Standard 100plus is one of the few labels that can communicate this added value for finished textiles at point of sale.’

Read more...

Penelitian Serat Kapuk Dalam Menyerap Minyak Mentah

>> Kamis, 03 Maret 2016


Serat kapuk merupakan bahan alam yang dapat diperbarui, ramah lingkungan dan memiliki sifat khas yaitu hidrofobik dan oilofilik sehingga berpotensi dalam pengendalian pencemaran minyak di laut dan pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbandingkan kapuk Indonesia dalam penelitian ini, dengan kapuk dari berbagai negara berdasarkan kandungan kimia kapuk, mengetahui potensi kapuk sebagai absorban berdasarkan karakteristik serapannya serta aplikasi di lapangan. 

Berdasarkan kandungan kimia serat kapuk, didapatkan kandungan ekstraktif yang dinyatakan dalam kelarutan air dingin 2.95% dan kelarutan air panas 4.05%, holoselulosa 95.93%, α-selulosa 34.94%, hemiselulosa 57.38%, dan lignin klason 13.18%. Potensi kapuk sebagai absorban diperoleh dari pengujian kapasitas absorpsi, waktu absorpsi, dan desorpsi kapuk terhadap beberapa sampel minyak atau oli. 

Hasil menunjukkan bahwa kapuk memiliki kapasitas absorpsi 40-52 g/g, waktu absorpsi 1-8 menit Kapasitas absorpsi mengalami pengurangan sebesar 15-30% yang selanjutnya absorpsi konstan. Perbedaan kapasitas dan waktu absorpsi dipengaruhi oleh faktor viskositas masing-masing sampel minyak atau oli dan faktor pengempresan kapuk. Berdasarkan sifat absorpsi tersebut, kapuk direferensikan menjadi absorban yang efektif dan efisien dalam oil removal. Oleh karena itu kapuk dapat diaplikasikan menjadi bahan material dalam booms, skimmer dan teknik penyerapan lainnya.

Read more...

Musim Kemarau Gudang Kapuk Dilalap Sijago Merah

>> Senin, 07 Desember 2015

PATI – Sebuah gudang kapuk milik Yudi, warga RT 6/RW I, Desa Guwo, Kecamatan Tlogowungu Selasa (30/9/2014) kemarin hangus terbakar. Sijago merah yang sempat membesar itu, diketahui pukul 11.30.

Beruntung berkat upaya masyarakat setempat, dan tiga armada pemadam kebakaran, akhirnya api berhasil dijinakkan. Sehingga, api tidak jadi merambat kebeberapa rumah sekitar.

Menurut Suyudi, 46, warga setempat mengatakan, melihat kejadian itu, dia langsung menghubungi warga sekitar dan melaporkan kejadian itu ke pihak Polsek setempat. Warga juga langsung menghubungi UPT Pemadam Kebakaran Pati.

Tidak berselang lama, beberapa unit kendaraan pemadam kebakaran tiba dilokasi. Petugaspun langsung sigap memadamkan api tersebut, yang diketahui telah merambat ke dinding atap gudang. Dengan dibantu warga, sekitar 20 menit api akhirnya bisa dijinakkan.

”Sebelumnya ada warga lain, sempat melihat dua orang anak kecil, keluar dari gudang berlari seperti ketakutan. Selang 5 menit, muncul kepulan asap disertai bara api. Beruntung rumah yang ada disamping gudang tidak tersambar api, sehingga masih aman,” ungkap Suyudi.

Heru Suyanta, Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kabupaten Pati menambahkan, akibat kebakaran tersebut pemilik gudang ditaksir menanggung kerugian material hingga Rp 15 juta. Lantaran, sejumlah bangunan rumah seperti atap dan gebyok juga turut hangus.

Lanjutnya, diduga kebakaran bermula dari anak kecil yang bermain api di dalam gudang kapuk tersebut. Hanya saja api merambat ke tumpukan kapuk hingga menyebabkan bara dan menyulut api berkobar.

”Beruntung kejadian tersebut tidak sampai menyebabkan adanya korban jiwa maupun merambat ke rumah tetangga,” ujarnya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk dapat lebih berhati-hati memasuki musim kemarau ini. Masyarakat diharapkan dapat lebih waspada jika hendak menyulut api terutama di dekat bahan yang mudah terbakar.

”Biasanya di musim kemarau seperti ini, banyak kasus kebakaran yang terjadi di tempat penyimpanan kapuk atau ladang tebu. Kami juga telah berupaya melakukan sosialisasi agar masyarakat dapat waspada terutama anak-anak,”imbuhnya.

Read more...

Tumpukan Limbah Kapuk Terbakar Gegerkan Warga Desa

>> Senin, 22 Juni 2015

Sebagian warga Desa Wuwur Kecamatan Gabus, mendadak geger, Minggu petang kemarin, (21/6). Ini terjadi menyusul tumpukan limbah kapuk di dekat gudang terbakar.

Tumpukan limbah kapuk yang sudah tidak terpakai, di dekat gudang milik H. Sobiri, 55 tahun, warga RT. 03/RT.01 Desa Wuwur Kecamatan Gabus, terbakar. Munculnya kobaran api pada tumpukan limbah kapuk tersebut, mengundang ketakutan warga sekitar, dan pekerja yang sedang memindahkan limbah itu, ke atas truk. Kepala Unit Pemadam Kebakaran Kabupaten Pati, Heru Suyanta, ketika diwawancara radio PAS Pati diruang kerjanya, Senin siang (22/6) mengiyakan ada laporan tersebut. Setelah menerima laporan itu, pihaknya mengerahkan tiga armada ke lokasi yang disampaikan masyarakat.

“Ternyata sesampainya di tempat, api sudah berhasil dikendalikan oleh warga. Namun warga meminta agar, tumpukan limbah kapuk yang sempat terbakar itu, tetap disemprot  untuk mengantisipasi munculnya api, yang membahayakan warga. Karena berada disebelah gudang kapuk,” kata Heru Suyanta.

Kepala Unit Pemadam Kebakaran Kabupaten Pati, Heru Suyanta mengatakan, munculnya kobaran api itu, karena tersulut api putung rokok yang dibuang sembarangan, yang kemudian mengenai tumpukan limbah kapuk.

Meski tidak ada korban jiwa, namun tumpukan limbah kapuk yang rencananya akan diangkut menggunakan truk, mengakibatkan pemiliknya, H. Sobiri, merugi Rp.5juta.

Read more...

Perkembangan Buruh dan Organisasi Buruh Awal Abad 20

>> Rabu, 17 Juni 2015

Buruh Wanita di Pabrik Kapuk 1900 (Koleksi: Tropen Museum TMnr_60020393)
Tulisan ini adalah Cuplikan tulisan dari buku Gerakan Serikat Buruh Jaman Kolonial Hingga Orde Baru karangan Edy Cahyono dan Soegiri DS Terbitan Hasta Mitra yang berbentuk e-book. Dengan cuplikan ini kita dapat melihat bagaimana perkembangan transformasi petani menjadi buruh dan penderitaan buruh dibawah kekuasaan modal yang mulai masuk ke Hindia Belanda bagai banjir dengan perkebunan-perkebunannya hingga munculnya organisasi buruh yang mencoba untuk memperjuangkan kaum buruh yang tertindas pada masa kolonial Belanda.

Abad ke-19 adalah abad paling revolusioner dan penuh perubahan dalam sejarah kepulauan yang saat ini dikenal sebagai Indonesia. Di awal abad itu konsep negara—kolonial Hindia Belanda¬disiapkan oleh Herman Willem Daendels (1808-1811)—seorang penga-gum revolusi Perancis—untuk mempertegas pengelolaan wilayah koloni yang sebelumnya hanya merupakan mitra perdagangan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Di abad itu pula struktur masyarakat kapitalistik terbentuk. Lembaga keuangan Nederlansche Handels-Maaatschapij (NHM)[1] danJavasche Bank[2] didirikan. Tampil pengusaha-pengusaha Eropa mengelola industri perkebunan dan pabrik-pabrik,[3] sementara kaum bumiputera disiapkan menjadi buruh. Perjalanan perburuhan sejak jaman kolonial Hindia Berlanda­ tonggak pentingnya adalah 1830-1870 sebagai kurun Cultuurstelsel, sedang setelah 1870,—pencanangan Agrarische Wet—, adalah jaman liberalism, tentu tidak semua aktivitas buruh dan serikat buruh dapat dicakup di dalam tulisan ini. Namun paling tidak tonggak-tonggak besar maupun peristiwa yang berpengaruh luas akan dicoba untuk ditampilkan.

Di abad 19 ini telah ada buruh—karena industrial kapitalistik (hubungan buruh dengan modal) untuk memproduksi barang ­dagangan secara masal (generalized commodity production) telah dimulai sejak 1830. Pada Mei 1842, saat terjadi rotasi penanaman lahan tebu di kabupaten Batang—Karesidenan Pekalongan—di desa-desa Kaliepoetjang Koelon, Karanganjar dan Wates Ageng akan diadakan perluasan penanaman tebu. Residen meminta tanah-tanah barn yang berkondisi balk untuk dipakai menanam tebu dalam jangka dua tahun. Instruksi gubernemen ini disampaikan langsung oleh bupati Batang kepada para kepala desa. Pada 22 Oktober, kontrolir Batang melaporkan, sejumlah 46 desa yang penduduknya melakukan cultuurdienst tebu untuk masa tanam tahun yang lalu belum dilunasi upahnya untuk kerja musim panen tahun ini. Sebabnya, mereka dianggap belum cukup memenuhi pajak natura tebu yang hams diserahkan, yang ada dalam kontrak-kerja tahun 1841, dengan upah sebesar 14,22 gulden per kepala. Keadaan menggenting, planter (penanam tebu) yang terlibat kerja ondernemingtersebut tidak mau melunasi pajak natura yang dibebankan melainkan justru berbalik melakukan tuntutan untuk kenaikan upah dari 14,22 gulden menjadi 25 gulden. Protes planter ini terjadi pada 24 Oktober 1842, dan diikuti 600 planter dari 51 desa.[4]

Di Yogyakarta tahun 1882 terjadi pemogokan berturut-turut. Gelombang pertama berlangsung sejak awal minggu terakhir bulan Juli 1882 sampai tanggal 4 Agustus 1882 melanda empat pabrik gula (PG). Gelombang kedua berlangsung dan tanggal 5 Agustus sampai dengan 22 Agustus 1882, melanda 5 pabrik dan perkebunan. Gelombang ketiga berlangsung dari tanggal 23 Agustus sampai pertengahan Oktober 1882, melanda 21 perkebunan. Lokasi pemogokan adalah Kabupaten Kalasan (pabrik gula Barongan), Kabupaten Sleman (PG. Padokan, PG. Cebongan, PG. Bantul). Isu pemogokan tersebut adalah: 1). Upah; 2). kerja gugur-gunung yang terlalu berat; 3). kerja jaga (wachtdiensten) yang dilakukan 1 hari untuk setiap 7 hari; 4). kerja moorgan yang tetap dilaksanakan padahal tidak lazim lagi; 5). upah tanam (plaantloon) yang sering tidak dibayar; 6). banyak pekerjaan tidak dibayar padahal itu bukan kerja wajib; 7). harga bambu petani yang dibayarkan oleh pabrik terlalu murah bila dibandingkan harga pasar; 8). beberapa pengawas Belanda sering memukul petani.[5]

Dilihat dan jumlah orang dan desa yang terlibat protes tentu ini protes besar. Namun disebabkan belum ada organisasi modem (serikat, partai, dsb.), seringkali aktivitas politik buruh seperti melakukan protes dan mogok belum menjadi perhatian para penulis, peneliti sejarah sosial-politik. Hal serupa ini tentu bias didapatkan di berbagai wilayah kantung (enclave) industri masa tersebut.
Bila kita membaca hasil-hasil penelitian abad ke-19 cenderung diangkat persoalan protes petani. Sementara petani di Hindia Belanda adalah petani yang tidak dapat dikategorikan sebagai farmer (man tanah kapitalis), namun lebih merupakan peasant (petani g-urem/miskin). Kaum tani gurem ini untuk hidupnya hams bekerj a pada industri-perkebunan yang diciptakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sehingga sebetulnya yang dimaksud dengan protes petani—dengan telah adanya produksi barang dagangan secara massal—adalah buruh.

Sedikit penjelasan tentang petani di abad ke-19. Dalam konsepsi Barat akses seseorang terhadap tanah akan menentukan seseorang diklasifikasikan sebagai farmer atau worker (buruh). Sementara di masyarakat Asia (Asiatic mode ofproduction) hal ini berbeda. Memang petani di pulau Jawa punya akses terhadap tanah negara (souverein bezit). Hal ini dalam konstruksi Van den Bosch adalah pranata bumiputra. Sedangkan untuk mengolah tanah dugunakan ikatan-ikatan adat. Pengalokasian sebidang tanah kepada satu keluarga, berarti pembebanan dari negara (tradisional/kerajaan) atas petani untuk menuntut sebagian dan hasil tanah tersebut bagi kepentingan penguasa bumiputra tertinggi (souverein).[6] Di dalam desa-desa terdapat distribusi periodik atas tanah, dan ada surplus agrikultrur yang dialirkan atau diserahkan kepada bupati atau raja dalam bentuk-bentuk upeti. Dengan menggunakan bentuk penguasaan tanah-upeti seperti ini diterapkan suatu sistem yang mengandalkan jalur-jalur ini, untuk memobilisasi petani menjadi buruh.

Thomas Stamford Raffles, dalam kurun pemerintahannya yang singkat di Jawa (1811-1816), telah meletakkan dasar-dasar penting bagi perubahan mendasar di Jawa. Dia menerapkan pengambil-alihan seluruh tanah di Jawa menjadi milk negara (domein), bagi dia tidak ada pemilikan tanah pribadi/individual dalam masyarakat bumiputra. Raffles menginterpretasikan gejala penye-rahan upeti pada para penguasa bumiputra sebagai bukti dari pemilikan tanah negara. Kebijakan Raffles sebetulnya dipengaruhi oleh sistem sosial Zamindar (“tuan-tanah’) yang ada di India, jajahan Inggris.[7]

Oleh Van den Bosch, konsep Raffles tentang pemilikan tanah negara ini diadaptasi dan digunakan untuk berlangsungnya cultuursteisel dengan melakukan modifikasi-modifikasi Seperti, jika dalam konsep Raffles, tanah yang diambil negara itu sebagai upaya menarik uang dan petani karena petani menjadi penyewa sehingga wajib membayar sewa tanah (/andrente); oleh den Bosch kini dibalik yaitu tanah-tanah dikembalikan kepada rakyat bumiputra, namun pengembalian tanah-tanah tersebut disertai beban yakni setiap petani yang mendapat atau menguasai tanah, wajib menanami tanah tersebut dengan tanaman dagang konsumsi dunia, atau menyediakan din untuk bekerja selama 66 hari pada onderneming­onderneming pemerintah. Pewajiban kerja yang diajukan Bosch ini dianggap lebih ringan jika dibandingkan dengan kewajiban membayar pajak (lanrente).[8]

Di masa selanjutnya, mempekerjakan petani sebagai buruh semakin tidak dilandaskan pada penguasaan tanah, seperti dilaporkan oleh Commisie Umbgrove. Diferensiasi sosial masyarakat desa sejak sikep (petani kaya) yang juga dapat mencakup posisi loerah, wedono dsb., jelas mempunyai akses terhadap tanah. Namun beberapa lapisan sosial di bawah seperti menoempang, boedjang lebih merupakan buruh ketimbang lapisan sosial berakses tanah. Dua klasifikasi sosial belakangan adalah potensial menjadi buruh.[9] Dan meskipun di beberapa daerah terjadi perubahan istilah dan sikep menjadi kuli kenceng atau kuli kendo hal ini tidak berarti mereka dapat dipaksa melepas hak-hak istimewa yang dimilikinya, atau turun statusnya menjadi buruh tani. Mereka tetap bertahan sebagai klas petani-kaya yang tidak perlu menjual tenaga kerjanya pada orang lain, atau pada pabrik.[10]

Setelah 1870 perkembangan industri menjadi demikian pesat. Jaman yang dikenal sebagai Jaman Liberal ini direspon secara optimal oleh kalangan swasta Eropa. Beberapa perusahaan perdagangan swasta mengambil alih peran yang selama ini dilakukan oleh NHM, seperti Maclaine Watson (telah berdiri sejak 1820), George Wehry (1862), Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumij) (1894). Dan beroperasi bank-bank swasta seperti Nederlandsch-Indisch Escompto Maatschappij (1857), Nederlandsch Indisch Handelsbank (1863), Rotterdamsche Bank (1863), Internationale Credit-en Handelsvereeniging Rotterdam (Internatio) (1863) , Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) (1878), dan Koloniale Bank (1881), dan sebuah bank yang terbatas operasinya di Vorstenlanden, Dorrepaalsche Bank (1884).[11] Karena aktivitas mereka mendukung dana industri pertanian/perkebunan, bank-bank tersebut dikenal pula sebagai cultuurbanken.

Dalam hal pertanahan, para kapitalis perkebunan tersebut diperkenankan melakukan penyewaan tanah jangka panjang, selama 75 tahun disebut erfi,acht. Investasi tidak hanya di Pulau Jawa saja namun juga merambah Pulau Sumatera. Bila Investasi di Jawa memerlukan proses-proses panjang dalam mentrans-formasikan petani menjadi buruh; struktur feodal/kerajaan menjadi struktur birokrasi kolonial. Hal ini tidak terjadi dalam pembukaan Sumatera Timur.

Hal berbeda yang berkembang di Sumatera Timur adalah, perkebunan-perkebunan tembakau dibangun mulai tahun 1863 di daerah Deli oleh Jacobus Nienhuys, mendatangkan buruh-buruh dari luar wilayah tersebut, seperti dari Semenanjung Melayu (Malaysia dan Singapura), Pulau Jawa. Mereka diikat dengan kontrak. Dan kontrak tersebut tidak dapat diakhiri oleh sang buruh. Bila buruh berusaha melarikan diri dari tempat kerja mereka akan dikenakan hukuman yang dikenal sebagai poenale sanctie:[12] suatu hukuman yang dalam ukuran sejaman pun sangat kejam yaitu dapat berupa hukum cambuk untuk buruh laki-laki hingga dibunuh—Jacobus Nienhuys, pemilik Deli Maatschappij, menghukum cambuk 7 buruhnya hingga mati, hal mana membuat dia pergi tergesa-gesa dan Sumatera Timur.[13] Kasus lain, seorang buruh perempuan diikat pada bungalow tuan kebun dan kemaluannya digosok dengan lada.[14] Penyiksaan-penyiksaan ini, oleh Breman, disebut menjalankan produksi menggunakan teror. Para pemilik perkebunan mempunyai otonomi begitu luas sehingga perkebunan-perkebunan itu menjadi “negara dalam negara.”

Peristiwa aksi buruh menjadi tidak atau kurang muncul di dalam abad ke-19 lebih disebabkan belum ada organisasi serikat buruh.

Serikat-serikat buruh orang-orang Eropa di Hindia Belanda berdiri sejak akhir abad ke-19. Berturut-turut lahir Nederlandsch-Indisch Onderwijzers Genootschap (NIOG) tahun 1897; Staatsspoor Bond (SS Bond) didnikan di Bandung pada 1905; Suikerbond (1906); Cultu.urbond, Vereeniging v. Assistenten in Deli (1907); Vereeniging voor Spoor-en Tramweg Personeel in Ned-Indie, berdiri 1908 di Semarang; Bond van Geemployeerden bij de Suikerindustrie op Java (Suikerbond) tahun 1909 di Surabaya; Bond van Ambtenaren bij de In-en Uitvoerrechten en Accijnzijn in Ned-Indie (Duanebond) tahun 1911; Bond van Ambtenaren bij den Post-, Telegraaft-en Telefoondienst (Postbond) tahun 1912; Burgerlijke Openbare Werken in Ned-Indie (BOWNI) tahun 1912; Bond van Pandhuis Personeel (Pandhuisbond) (1913).

Ciri serikat-serikat buruh ini adalah: Pertama, tidak ada motif-motif ekonomi dalam proses pendiriannya. Tidak ada masalah pada sekitar tahun berdirinya serikat-serikat buruh tersebut misalnya, soal rendahnya tingkat upah, atau pun buruknya kondisi sosial tenaga kerja “impor.” Faktor yang mendorong pembentukan mereka adalah pertumbuhan pergerakan buruh di Belanda.[15] Pada sekitar 1860-1870 di Nederland sedang mengalami pertumbuhan pergerakan buruh. Dan sejak 1878 ada pengaruh gerakan sosial­demokrat yang mendorong berdirinya National Arbeids Secretariats (NAS) sebagai induk organisasi.[16]

Pada saat itu di Hindia Belanda ada ketentuan pasal 111 Regeling Reglement (RR) yang melarang dilakukannya rapat dan pembentukan sebuah organisasi tanpa ijin khusus dan pemerintah kolonial. Namun disebabkan pada tahun 1903 pemerintah kolonial menerapkan desentralisasi susunan pemerintah kolonial seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Batavia menj adi suatu gemente dan pengaturannya dilaksanakan oleh gementeraad (dewan kota). Menjadikan 111 RR tidak berlaku.

“hak berserikat dan berkoempoel diakoe tentang praktijknja, artinja diberi kelapangan, meskipoen beloem ditetapkan didalam oendang-oendang. Dengan segera peroebahan-peroebahan itoe kelihatan pengaroehnja: gerakan politiek jang amat ramai terbitlah dalam golongan bangsa Eropah.”[17]

Pembentukan serikat-serikat oleh buruh “impor” ini selain merupakan pengaruh dari perkembangan gerakan buruh yang berlangsung di Eropa pula merupakan bagian dari kepentingan “politik” terbatas kehidupan kota. Perkembangan selanjutnya dalam keanggotaan serikat-serikat buruh ini tidak hanya merekrut anggota “impor” saja, akan tetapi juga menerima kalangan bumiputera. Ini terjadi sebagai pengaruh semangat etis. Program Pendidikan yang merupakan salah satu program dalam politik balas jasa Etische Politiek di awal 1900 memberi nuansa baru dalam perkembangan intelektual bumiputera. Ditambah lagi dengan pembentukan serikat-serikat oleh buruh “impor,” telah memicu serikat buruh dibangun oleh kaum bumiputera dalam masa-masa sesudahnya. Beberapa di antaranya yang dapat disebutkan adalah:

Perkoempoelan Boemipoetera Pabean (PBP) tahun 1911; Persatoean Goeroe Bantoe (PGB) tahun 1912; Perserikatan Goeroe Hindia Belanda (PGHB) berdiri tahun 1912; Persatoean Pegawai Pegadaian Boemipoetera (PPPB) tahun 1914; Opium Regie Bond (ORB) dan Vereeniging van Indlandsch Personeel Burgerlijk Openbare Werken (VIPBOUW) tahun 1916; Personeel Fabriek Bond (PFB) tahun 1917.

Di kalangan Tionghoa pada 26 September 1909, di Jakarta, dibentuk Tiong Hoa Sim Gie dipimpin oleh Lie Yan Hoei. Empat bulan kemudian kelompok ini merubah nama menjadi Tiong Hoa Keng Kie Hwee yang kemudian menjadi inti dan Federasi Kaum Boeroeh Tionghoa.

Perhimpoenan Kaoem Boeroeh dan Tani (PKBT) didirikan tahun 1917, di lingkungan industri gula. Organisasi ini dikembangkan dan Porojitno yang dibentuk oleh Sarekat Islam (SI) dan ISDV Surabaya pada tahun 1916. PKBT kemudian dipecah menjadi dua di tahun 1918 yaitu Perhimpoenan Kaoem Tani (PKT) dan Perhimpoenan Kaoem Boeroeh Onderneming (PKBO). PKBO kemudian digabung dengan Personeel Fabriek Bond (PFB), sebuah organisasi yang dibentuk oleh Soerjopranoto tahun 1917.

Vereniging Sp00r-Traam Personen (VSTP) didirikan pada 14 November 1908 di Semarang, Jawa Tengah oleh 63 buruh “impor” Eropa yang bekerja pada 3 jalur kereta Nederlansch­Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Semarang-Joana Maatschappij Stoomtram (SJS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).[18] Rapat umum VSTP pada Pebruari 1914 diputuskan dan posisi tujuh anggota eksekutif tiga diambil dan kaum bumiputera. Jumlah anggota VSTP diakhir 1913 adalah 1.242 (673 Eropa dan 569 Bumiputera), dan pada Januari 1915 beranggotakan 2.292 dan anggota bumiputera telah mencapai 1.439. Tahun 1915 VSTP menerbitkan orgaan (surat kabar) Si Tetap, dalam bahasa Melayu. Moehamad Joesoefmenjadi editornya. Joesoef pun terpilih menjadi Ketua Pusat bersama pemuda berusia 16 tahun, Semaoen.

Semaoen kemudian masuk ke VSTP cabang Surabaya pada paruh akhir 1914, dan dia terpilih menjadi ketua cabang di awal 1915. Pada 1 Juli 1916, Semaoen pindah ke Semarang menjadi propagandis utama VSTP dan editor Si Tetap. Semaoen begitu gigih membangun VSTP. Pada 1920 dia telah membangun 93 (sembilan-puluh tiga) cabang di Pulau Jawa (Cirebon, Semarang, Yogya, Surabaya, Madiun), beberapa di pantai Barat Sumatera dan pada perkebunan Deli. Anggota VSTP pada Mei 1923 telah mencapai 13.000 orang, atau seperempat buruh industri perkereta­apian Hindia Belanda. Tercatat 60 persen anggota pasti membayar iuran, sisanya membayar iuran organisasi pula namun tidak terlalu patuh.

Pemogokan VSTP pada April 1923 berakibat Semaoen­berdasarkan Gouvernement Besluit tanggal 4 Agustus 1923— diasingkan ke Nederland. Dia berangkat pada 18 Agustus 1923 menumpang kapal S.S. Koningin der Nederlanden.[19]

Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) adalah gagasan Sosrokardono, ketua PPPB (Pegawai Pegadaian), dilontarkan Mei 1919. Hal ini juga dilontarkan dalam Kongres SI ke IV, Oktober 1919, di Surabaya. Soerjopranoto memperkuat untuk realisasi PPKB. Berdirilah PPKB dengan Semaoen sebagai ketua dan Soerjopranoto sebagai wakil ketua. Maksud dan tujuan PPKB seperti di dalam anggaran dasar pasal 2 adalah:

“la bermaksud mengadjak dan mengadakan persatoean antara sederadjat kaum buruh supaja dapat suatu kekuasaan; kekuasaan itoe akan dipergunakan umumnja buat memperhatikan keperluannja kaum buruh dalam perkaranja lahir dan batin, jang pertama keperluannja lid2nja vakbond jang sudah bersatu dalam PPKB.”

Cara yang akan ditempuh:

“PPKB akan memasakkan itu dengan 3 djalan long ada, jaitu: “berichtiar mendapat kuasa dalam pamerintahan negeri supaja negeri terperintah—oleh—rakjat—sendiri mengurus djalannja redjeki” (sociaal democratisch      `Mengeratkan kaum buruh dalam pekerdjaannja guna merobah nasibnja” (vakstrijd, mengadakan perdagangan—oleh—dan—boeat—rakjat (koperasi).”[20]

Kongres I PPKB dilakukan pada 1 Agustus 1920 di Semarang. Pada bulan Juni 1921 diadakan suatu konperensi di Yogya. Hal ini menimbulkan perpecahan PPKB. Sehingga kemudian kedudukan organisasi dipindah dari Semarang ke Yogyakarta. Pecahan PPKB membentuk gabungan baru bernama Revolutionaire Vakcentrale diketuai oleh Semaoen.

Pemogokan-pemogokan dengan mengandalkan organisasi mulai gencar terjadi di tahun 1920-an. PFB tahun 1920 memobilisasi pemogokan disebabkan majikan menolak mengakui PFB sebagai organisasi yang mewakili anggotanya. Di Surabaya pada 15 Nopember 1920 pada Droogdok Maatschappij terjadi pemogokan diikuti sekitar 800 buruh. Agustus 1921 pemogokan terjadi di lingkungan buruh pelabuhan Surabaya. Medio Januari 1922 pegawai pegadaian mogok mencakup 79 rumah-gadai dengan sekitar 1.200 buruh (PPPB). Buruh kereta-api didukung sekitar 8.500 buruh mogok pada April 1923 (VSTP).

Dalam merespon aksi-aksi buruh tersebut pemerintah kolonial mengadakan peraturan “Dewan Perdamaian untuk Spoor dan Tram di Djawa dan Madura” yang diharapkan menjadi perantara bila terjadi perselisihan industrial. Namun kemudian pemerintah kolonial merasakan bahwa pemogokan mempunyai tujuan politik untuk menggulingkan kekuasaan mereka. Untuk itu pada 10 Mei 1923 diumumkan undang-undang larangan mogok yang dikenal dengan artike1161 bis. Memang artike1161 bis dikeluarkan sebagai respon terhadap pemogokan VSTP.

Namun artikel ini bukan alat ampuh menyetop pemogokan. Pemogokan di perusahaan percetakan di Semarang terjadi pada 21 Juli 1925. Menyusul pemogokan di C.B.Z. pada 1 Agustus 1925; diikuti dengan pemogokan di Stoomboot en Prauwenveer yang diikuti sekitar 1.000 anggota yang berakhir pada September 1925. Percetakan Van Dorp di Surabaya juga mengalami pemogokan pada 1 September; sedang pada 5 Oktober dan 9 Nopember pemogokan terjadi di pabrik mesin N.I. Industrie dan Braat. Serikat Boeroeh Bengkel dan Elektris (SBBE) mogok pada 14 Desember 1925. Mencakup 7 pabrik mesin dan konstruksi. Penyebab pemogokan adalah Vereeniging van Machinefabrieken yang membawahi 7 pabrik tersebut memutuskan tidak ingin berhubungan dengan SBBE25

Pemogokan-pemogokan yang semakin menjalar tersebut direspon gubememen dengan menerbitkan peraturan baru yang mendukung artikel 161 bis:

Dioendangken dengen beslit radja, jaitoe tentang doea artikel No. 153 bis dan 153 ter dalem W.v.S.

153 Bis

Barang siapa, jang sengadja melahirken dengen perkata’an, toelisan atau gambar, jang bermaksoed, baik sindiran, baik tengah2 atau bisa didoega-doega, mengganggoe ketentereman oemoem, baik berkehendak atau setoedjoe dengen angan-angan jang mendjatoehken atau menjerang dari kekoeasa’an di negeri Belanda atau di Indonesia, aken dihoekoem dengen hoekoeman pendjara setinggi-tingginja enam tahoen atau denda oeang setinggi2nja tiga ratoes roepiah.

153 TER

Barang siapa, jangmenjetoedjoei atau menjebarken dengen toelisan atau gambar, jang bermaksoed baik sindiran, tengah-tengah atau dengen perkataan lain-lain, jang bisa menjebabken kegadoehan ketenteraman oemoem, atau mendjatoehken atau menjerang kekoeasa’an jang ada di negeri Belanda atau di Indonesia, dengen bermaksoed itoe di oemoemken atau membesarken, menjebar, mem­beritahoeken pada oemoem atau berkata, aken dihoekoem dengen hoekoeman pendjara setinggi-tingginja lima tahoen atau denda oeang setinggi-tingginya tiga ratoes roepiah.
Ini beslit radja, aken berlakoe molai tg. 1 Mei 1926.[21]

Dengan keluarnya peraturan pemerintah kolonial tersebut bisa dipastikan Gerakan Buruh pada awal-awal abad ke-20 mengalami represifitas dan banyak para pemimpinnya yang ditangkap dan dibuang ke pengasingan. Perjuangan melawan kapitalisme memang perjuangan yang tak pernah selesai…..

Read more...
Powered By Blogger
JANGAN SALAH MEMILIH DALAM BERBISNIS | ANDA LAYAK MENDAPATKAN PRODUK TERBAIK | HUBUNGI : ARIF MULYADI (+62) 08562700040