KAMI SUKA MEMBINA KERJASAMA | KAMI MENJAGA KUALITAS PRODUK | KEPUASAN ANDA ADALAH PRIORITAS KAMI | HOTLINE CALL: (+62) 08562700040



Kasur Kapuk Lipat

>> Kamis, 01 September 2011


Saya ini termasuk dalam generasi kapuk. Maksud saya, generasi yang dibesarkan di atas kasur kapuk. Bukan seperti manusia-manusia modern sekarang yang tidur di atas besi yang dipilin-pilin hingga menyimpan energi pegas dan bila ditiduri akan mentul-mentul.
Bagi saya, tempat tidur kapuk itu unik. Mau dibilang empuk tapi kok kalah empuk dengan kasur pegas. Mau dibilang keras kok ya tidak sekeras tikar jerami yang di taruh di atas lantai. Mungkin rasa “pas”, itu yang cocok untuk menggambarkan kasur kapuk dalam pandangan saya.
Selain rasanya yang seperti saya tulis di atas, kasur kapuk juga punya keunikan lain. Keunikan itu adalah pada aromanya yang khas.

Aroma kasur kapuk, apalagi yang sudah lama ditiduri, itu khas sekali. Entah bagaimana saya menggambarkannya dengan kata-kata. Yang jelas, tidur di kasur kapuk itu rasanya seperti dipeluk oleh kehangatan aroma khas itu. Selain itu kasur kapuk relatif tidak menyerap panas beda sama kasur pegas yang justru konduktor panas, hal ini menyebabkan kasur kapuk terasa nyaman saat udara mulai memanas sekalipun. Kalau kita berpikir lebih jauh lagi kasur kapuk ini mempunyai dampak positif bagi bumi kita ini karena sifatnya yang ramah lingkungan dan terbarukan, akan tetapi karena sifat alaminya tersebut kasur kapuk tidak bisa berumur cukup lama dibanding produk sintetis turunan dari minyak bumi.

Kasur kapuk juga lucu karena ada tipu-tipunya. Ada kasur kapuk yang terlihat gendut semlohai saat berada di toko tapi langsung kurus kering dan kempot ketika sudah ditiduri barang satu minggu. (ada yang bilang kasur model ini kapuknya ditiupi angin hingga mengembang dan terlihat berisi). Selain itu kasur kapuk juga perlu diisi ulang setiap beberapa lama. Proses isi ulangnya juga unik yaitu dengan mengeluarkan kapuk yang sudah ada di dalam kasur, mengaduknya dengan kapuk baru (yang lagi-lagi timbangan dan penampakannya bisa ditipu-tipu), lalu memasukkannya lagi ke dalam kasur. Semua harus dilakukan dengan penutup hidung karena serat-serat kapuk yang halus sering nakal dan beterbangan lalu hinggap di hidung hingga membuat bersin berkepanjangan.
Sekarang demi kepraktisan saya sudah tidak memakai kasur kapuk lagi. Selain karena sudah jarang yang jual, saya juga tidak tahan dengan praktek tipu-tipu seperti yang saya sebut di atas. Tapi selalu ada kerinduan akan kasur kapuk. Setiap kali pulang ke Jakarta, saya selalu menyempatkan tidur di kasur kapuk milik ibu. Rasa dan baunya, sungguh khas.
Dua minggu lalu saat berjalan-jalan ke Ubud secara tidak sengaja saya menemukan sebuah toko penjual kain batik antik. Tanpa disengaja pula saya melihat salah satu produk mereka yang adalah kasur kapuk yang bisa dilipat sedemikian rupa hingga menjadi semacam sofa kecil. Saya langsung jatuh cinta begitu merasakan duduk dan tiduran di atasnya. Bau khas kapuk segera menyergap hidung saya dan mengembalikan kenangan masa lalu yang indah. Tanpa pikir panjang saya langsung menanyakan harganya. Tawar menawarpun berlangsung seru karena si pemilik toko, seorang nenek yang menyebut dirinya sebagai dadong (bahasa Bali untuk nenek), sangat baik, ramah, dan penuh canda. Tanpa dikira saya berhasil mendapatkan harga yang menurut saya murah. Jadilah kasur kapuk lipat itu saya boyong ke rumah.
Di rumah, kasur lipat itu benar-benar menjadi teman saya saat membaca buku atau sekedar tidur-tiduran di siang bolong nan panas. Menaruh badan saya di atasnya serasa seperti kembali ke pelukan keluarga yang hangat. Apalagi kasur lipat itu dibalut batik antik seperti yang almarhumah eyang saya selalu pakai setiap hari, sungguh nyaman rasanya.
Lagi-lagi saya termasuk dalam generasi kapuk. Jadi mungkin tulisan ini sangat tidak berarti bagi generasi pegas.

Posting Komentar

Powered By Blogger
JANGAN SALAH MEMILIH DALAM BERBISNIS | ANDA LAYAK MENDAPATKAN PRODUK TERBAIK | HUBUNGI : ARIF MULYADI (+62) 08562700040